Menjelang Kelahiran Anak Pertama Kami

Hari Kamis kemarin, usia kehamilan istri saya (kurang lebih) 38 minggu. Senang rasanya karena waktu penantian kami tinggal sebentar lagi. istri saya sering berkata, “Ayo Dek! Cepat lahir! Bunda sudah tidak sabar.”

Saya kasihan melihat “penderitaan” istri pada akhir masa kehamilannya. Paginya segar bugar, sehingga bisa jalan-jalan di sekitar rumah. Selama hamil, istri saya tinggal di rumah ibunya, di kaki gunung Muria yang masih minim polusi. Menjelang siang, istri saya tidak bisa duduk atau berdiri lama-lama. Pergantian dari rebahan ke duduk rasanya sakit. Semoga, kesabaran istri saya berbuah catatan amal kebaikan.

Masalah lain di waktu istri hamil tua adalah kebosanan. istri saya bosan karena tidak melihat dunia di luar desa. Saya sudah beberapa kali mengajaknya jalan-jalan ke Gembong. Tapi tidak jadi berangkat karena kondisinya yang tidak kuat untuk perjalanan jauh naik sepeda motor. Untuk mengusir kebosanan, saya membelikan istri 13 edisi tabloid Nakita dan Mom & Kiddie. Yang bekas saja, murah meriah. Hehehe :) . Lumayan untuk menambah wawasan dalam hal kesehatan, pendidikan, keluarga, dll.

Janin dalam kandungan istri sangat aktif. Ini tentu saja menyenangkan bagi kami. Pernah, selama beberapa jam si Janin tak terasa gerakannya. Membuat istri saya cemas. Maklum, kehamilan pertama.

Alhamdulillah, tidak ada kendala yang berarti selama kehamilan istri. Di awal kehamilan istri muntah, tapi tidak sering. Ngidam pun tidak aneh-aneh. Kami selalu berusaha agar si Janin mendapat asupan gizi yang cukup.

Setelah usia kehamilan empat bulan, kami mulai sering mengajak ngobrol si Janin, menyanyi, memperdengarkan bacaan Al Qur’an dan lagu-lagu positif, dan mengelus-elus perut bundanya. Katanya, di usia 4 bulan, saraf-saraf panca indera mulai terbentuk. Jadi harus dirangsang agar berkembang dengan baik.

Kami juga berusaha menjauhkan si Janin dari suara-suara yang tidak baik. Misalnya dari suara orang marah-marah di sinetron, lagu-lagu dengan syair negatif, dsb. Kami tidak ingin anak kami akrab dengan sesuatu yang negatif. Mendidik anak jaman sekarang penuh tantangan. Jadi fondasinya harus kuat. Dimulai dari dalam kandungan.

Kami sadar bahwa memiliki anak adalah tanggung amanah besar dari Allah. Tidak bisa kami seenaknya dalam merawat dan mendidik anak. Kami mengharapkan anak yang bisa menutupi kelemahan orang tuanya. Kami ingin anak yang senantiasa mendoakan orang tuanya ketika masih hidup maupun sudah meninggal.

Perjalanan rumah tangga kami baru saja dimulai. Semoga Allah memudahkan kami dalam mendidik anak. Semoga anak kami mencintai lingkungannya dan dicintai di manapun dia berada. Amin.

Incoming search terms:

kelahiran anak pertama (3), lahir anak pertama (2), melahirkan anak pertama (2), bayi kami lahir blogspot (1), sering duduk menjelang melahirkan (1), saya melahirkan anak pertama (1), rasanya melahirkan anak pertama (1), menjelang kelahiran anak pertama kami (1), menjelang kelahiran (1), melahirkan anak 1 (1)

Sedikit Cerita tentang Kehidupan Keluarga Kami

Sering kali ibuku mendapatkan perlakuan yang menyakitkan hati dari ipar wanita (IW) Beliau. Lebih-lebih setelah nenek wafat. Sebagai anak, saya berusaha mengingatkan Ibu untuk bersabar. Tidak menaruh dendam. Kesabaran itu selamanya, tidak ada batasnya. Karena balasan Allah sangat besar kepada orang-orang yang bersabar.

Saya sendiri sangat mengagumi kesabaran Ibu. Sudah belasan tahun Ibu tinggal serumah dengan IW, yang dari awal sudah menunjukkan ketidakcocokan. Kalau saya sendiri sih, sudah berkali-kali kabur dari rumah karena tidak kerasan. Akhirnya, rasa cinta, rasa berdosa dan kasihan kepada Ibu-lah yang membuat saya kembali untuk menemani Beliau.

Ibu sudah 22 tahun tidak bersuami, anak pun cuma satu, saya sendiri. Alangkah besar dosa saya meninggalkan Beliau sendiri berkali-kali. Astagfirullah, astagfirullah. Maafkan anakmu Ibu! Kini saya sudah beristri, istriku sudah hamil pula. Semoga dengan bertambahnya anggota keluarga, bertambahlah kebahagiaan Ibu. Bertambahlah keimanan kami. Semoga kami dapat bertemu dengan Ayah di surga nanti. Juga bertemu dengan saudara-saudara yang lain, dan orang-orang yang beriman. Amin!

Saat ini Ibu sedang membangun rumah sederhana tak jauh dari rumah kakek yang selama ini beliau tinggali. Rumah baru ini nantinya akan menjadi tempat tinggal, sedangkan usaha toko masih di rumah kakek. Karena langganan Ibu di situ sudah banyak.

Rumah ini dibangun dari hasil tabungan Ibu selama puluhan tahun ditambah bantuan paman bungsu. Saya sendiri cuma membantu semampunya.

Semoga dengan tempat tinggal yang baru, atmosfer di rumah kakek semakin membaik. Rumah kakek semakin lega, demikian juga dengan hati IW, semoga diberikan kelapangan. Semoga kami semua, dengan bertambahnya usia, bisa lebih bijaksana dalam menyikapi berbagai persoalan.

Semoga kami sekeluarga bertambah iman, bertambah makmur, sehat selalu, mampu berkomunikasi dengan baik kepada semua orang. Tolong doakan kami, ya!

Incoming search terms:

cerita tentang kehidupan (100), cerita tentang keluarga (90), cerpen tentang kehidupan (67), cerpen tentang keluarga (37), cerita kehidupan (35), cerpen keluarga (21), cerita kehidupan keluarga (11), cerpen tentang kekeluargaan (11), cerpen tentang kehidupan keluarga (7), cerpen tentang kehidupan sendiri (4)

Sedang Sakit Hati Karena Dihina?

Sakit hat itu wajar. Tapi jangan sampai dari sakit hati itu menimbulkan permusuhan tanpa akhir.

Anggap saja orang (yang menyakitkan hati) itu sedang emosi. Sedang khilaf. Maka maafkan saja. Doakan. Sabar.

Jangan sampai setan berhasil membujuk kita melakukan hal-hal negatif tanpa berfikir panjang.

Ingat! Satu musuh sudah terlalu banyak.

Red: sebenarnya ini nasihat buat saya sendiri :)

Incoming search terms:

sakit hati karena dihina (9), sakit hati karna d hina (2), status sdang sakit (1), sms sakit hati di hina (1), sms dihina (1), Skit hati dengan hina an (1), Sakit karna di hina (1), sakit hatiku kalau dihina (1), sakit hati ketika di hina (1), Cerita sakit hati di hina (1)