Anak Anda Ngomong Saru/Kasar? Cari tahu apa sebabnya

Boy shouting by clairity at FlickrIngatlah bahwa anak-anak adalah peniru yang baik. Mari kita daftar sebab-sebab anak bicara tidak sopan:

  • Kita sendiri sumbernya. Entah sadar atau tidak, kalau sedang berkumpul dengan teman-teman akrab mungkin terselip kata-kata saru. Atau waktu kita sedang marah, kata-kata kasar terlompat dengan derasnya. Ayo kita perbaiki ucapan kita.
  • Dari televisi. Sinetron (meskipun sinetron anak), banyak berisi kata-kata makian. Acara humor banyak berisi kata-kata hinaan. Lagu-lagu cinta dewasa banyak berisi kata-kata ‘cium’, ‘peluk’, ‘cumbu’, ‘belai’, dst. Ayo kita batasi acara-acara yang ditonton anak dan dampingi mereka saat nonton TV.
  • Dari teman-temannya. Yang ini lebih sulit kita kendalikan. Ajak diskusi para orang tua teman-teman anak kita mengenai ucapan yang tidak sopan ini.
  • Dari tetangga dewasa. Banyak juga kan, orang dewasa yang mengajari anak kata-kata aneh. Menurut mereka itu lucu saja. Ajak para orang dewasa itu untuk berbicara baik kepada anak.

Intinya, peran orang tua sangat penting terhadap perilaku anak. Janganlah anak kita terlalu lama ditinggal bersama pengasuh atau TV. Jadilah teman yang baik bagi anak Anda. Semoga anak kita senantiasa mendoakan saat kita telah pindah ke alam lain. Amin!

Incoming search terms:

kata kata aneh saru (1), kata saru (1)

Anak-anak yang Saya Kenal Sulit Berbagi (Pelit)

Children sharing sweetSaya heran, mengapa anak-anak di sekitar saya tidak mau berbagi. Entah itu makanan, mainan, dsb. Kalau diingat-ingat, dulu waktu kecil saya juga sulit berbagi.

Saya pikir, dari pengalaman dan pengamatan, sebab-sebab anak pelit antara lain:

  • Teman-temannya pelit, jadi dia juga ikut-ikutan
  • Kurangnya contoh dari orang-orang dewasa di sekitarnya
  • Anak terlalu banyak nonton TV dan game, jadi jiwa sosialnya kurang terlatih

Sedikit cerita dari saya. Saya memiliki beberapa sepupu, keponakan, dan tetangga usia 3-8 tahun yang setiap hari saya jumpai. Dialog-dialog yang terjadi banyak yang seperti ini:

Adi: “Aku punya coklat besar! Kamu nggak aku kasih. Weeek!” (Bayangkan sendiri ekspresinya)
Bona: “Biarin! Besok aku minta dibelikan sama Papaku yang lebih besar.”

atau yang seperti ini:

Aku: (Mengambil bonekanya) “Wiih! Bonekanya bagus ya?”
Cici: “Eeh, eh, eh!!” (Tangannya mencoba meraih bonekanya. Maksudnya: Itu punyaku. Kembalikan!)

atau yang seperti ini:

Ini tentang kursi yang biasa dipakai ibuku, yang kebetulan serumah dengan Cici. Adi sedang duduk di kursi tersebut.

Cici: “Jangan duduk di situ! Itu kursiku.” (sambil menarik tangan Adi)

Saya sendiri sudah berulang kali melatih mereka untuk mau berbagi. Misalnya dengan memberi contoh dan menjelaskan. Kadang-kadang mereka saya beri makanan atau mainan. Atau dengan menyuruh anak yang punya makanan untuk membagi makanannya kepada temannya. Yang diberi saya ajari berterima kasih. Tapi apalah daya saya karena bukan orang tua mereka.

Mudah-mudahan anak saya nanti tidak pelit. Alhamdulillah saya dan calon istri tidak pelit (ngakunya, hehehe!).

Incoming search terms:

anak pelit (1), anak sulit berbagi (1), penyebab anak menjadi pelit (1)

Sebaiknya Anak TK Tidak Diajari Calistung (Baca, Tulis, Berhitung)

Berikut adalah percakapan khayalan antara dua anak ajaib:
Rahma (TK Kecil) Rahma dan Lita (kelas 1 SD) Lita. Sore itu mereka bertemu di taman bermain di belakang SD Nagasari.

Rahma : Sore Mbak Lita!

Lita : Sore Rahma!

Rahma : Mbak Lita, Mbak Lita! Aku sudah bisa baca lho! (Sambil menunjuk pohon) Itu bacanya: “Rawatlah aku!”

Lita : Wah, hebat! Siapa yang ngajarin?

Rahma : Bu Juwita.

Lita : Hmm… Sebenarnya anak TK belum waktunya diajari membaca.

Rahma : Kenapa, Mbak?

Lita : Apa kamu nggak bete, harus menghafal banyak huruf?

Rahma : Kadang-kadang bete juga sih. Tapi ya senang juga kalau bisa membaca. Eh, tapi teman-temanku banyak yang stres lho Mbak. Sering ada yang ngambek nggak mau masuk sekolah.

Lita : Ya iya lah. Di TK kan mereka harusnya cuma bermain, bernyanyi, menggambar dan kegiatan menyenangkan lainnya. Menurut peraturan, membaca, menulis dan menghitung baru diajarkan di SD.

Rahma : Jadi calistung nggak ada di kurikulum TK ya Mbak?

Lita : Kok kamu tahu istilah ‘kurikulum’ segala?

Rahma : Kita kan anak ajaib. Hehehe! :D

Lita : Hehehe! :D

Rahma : Tapi kalau nggak ada di kurikulum, kenapa diajarkan?

Lita : Itu karena desakan orang tua. Mereka ingin supaya anak-anaknya waktu masuk SD nanti sudah bisa membaca. Pihak TK terpaksa mengajarkan membaca, menulis dan berhitung. Lama-lama, fenomena pengajaran calistung di TK menjadi suatu kewajaran.

Rahma : Padahal sebenarnya tidak wajar.

Lita : Betul. Karena orang tua suka membanggakan anaknya, mereka memaksa anak untuk belajar di luar batas kemampuannya. Disuruh les di sana-sini. Ini akhirnya akan membuat mereka stres, menurunkan kecerdasan (IQ), mematikan kreatifitas, membuat mereka seperti robot.

Rahma : Tapi Mbak, meski umurku baru 4 tahun, aku nggak stres-stres amat kalau diajari membaca.

Lita : Itu karena kamu anak ajaib. Sebenarnya orang tua boleh mengenalkan huruf dan angka kepada anaknya. Tapi harus dalam suasana bermain. Artinya anak tidak merasa dipaksa. Kalau si anak minta diajari, baru boleh diajari membaca. Jadi harus dari kemauan si anak sendiri. Tidak boleh ada target, misalnya: waktu masuk SD harus sudah bisa membaca.

Rahma : Tapi di beberapa SD favorit ada ujian membaca waktu mau masuk.

Lita : Itu sebenarnya melanggar peraturan. Ada surat edaran menteri yang melarang praktek seperti itu.

Rahma : Ngomong-ngomong, dialog kita sudah cukup panjang nih, Mbak.

Lita : Iya. Kasihan yang baca kalau kepanjangan :)

Incoming search terms:

belajar berhitung anak tk (16), kursus membaca dan menulis (13), dialog anak sd (12), calistung untuk anak tk (11), pohon hitung (3), gambar belajar berhitung anak tk (2), contoh dialog anak tk (2), mengenalkan angka pada anak tk (2), percakapan dialog anak (2), mengapa anak tk tidakl boleh diajari membaca berhitung (2)