Berikut adalah percakapan khayalan antara dua anak ajaib:
Rahma (TK Kecil)
dan Lita (kelas 1 SD)
. Sore itu mereka bertemu di taman bermain di belakang SD Nagasari.
Rahma : Sore Mbak Lita!
Lita : Sore Rahma!
Rahma : Mbak Lita, Mbak Lita! Aku sudah bisa baca lho! (Sambil menunjuk pohon) Itu bacanya: “Rawatlah aku!”
Lita : Wah, hebat! Siapa yang ngajarin?
Rahma : Bu Juwita.
Lita : Hmm… Sebenarnya anak TK belum waktunya diajari membaca.
Rahma : Kenapa, Mbak?
Lita : Apa kamu nggak bete, harus menghafal banyak huruf?
Rahma : Kadang-kadang bete juga sih. Tapi ya senang juga kalau bisa membaca. Eh, tapi teman-temanku banyak yang stres lho Mbak. Sering ada yang ngambek nggak mau masuk sekolah.
Lita : Ya iya lah. Di TK kan mereka harusnya cuma bermain, bernyanyi, menggambar dan kegiatan menyenangkan lainnya. Menurut peraturan, membaca, menulis dan menghitung baru diajarkan di SD.
Rahma : Jadi calistung nggak ada di kurikulum TK ya Mbak?
Lita : Kok kamu tahu istilah ‘kurikulum’ segala?
Rahma : Kita kan anak ajaib. Hehehe!
Lita : Hehehe!
Rahma : Tapi kalau nggak ada di kurikulum, kenapa diajarkan?
Lita : Itu karena desakan orang tua. Mereka ingin supaya anak-anaknya waktu masuk SD nanti sudah bisa membaca. Pihak TK terpaksa mengajarkan membaca, menulis dan berhitung. Lama-lama, fenomena pengajaran calistung di TK menjadi suatu kewajaran.
Rahma : Padahal sebenarnya tidak wajar.
Lita : Betul. Karena orang tua suka membanggakan anaknya, mereka memaksa anak untuk belajar di luar batas kemampuannya. Disuruh les di sana-sini. Ini akhirnya akan membuat mereka stres, menurunkan kecerdasan (IQ), mematikan kreatifitas, membuat mereka seperti robot.
Rahma : Tapi Mbak, meski umurku baru 4 tahun, aku nggak stres-stres amat kalau diajari membaca.
Lita : Itu karena kamu anak ajaib. Sebenarnya orang tua boleh mengenalkan huruf dan angka kepada anaknya. Tapi harus dalam suasana bermain. Artinya anak tidak merasa dipaksa. Kalau si anak minta diajari, baru boleh diajari membaca. Jadi harus dari kemauan si anak sendiri. Tidak boleh ada target, misalnya: waktu masuk SD harus sudah bisa membaca.
Rahma : Tapi di beberapa SD favorit ada ujian membaca waktu mau masuk.
Lita : Itu sebenarnya melanggar peraturan. Ada surat edaran menteri yang melarang praktek seperti itu.
Rahma : Ngomong-ngomong, dialog kita sudah cukup panjang nih, Mbak.
Lita : Iya. Kasihan yang baca kalau kepanjangan
Incoming search terms:
belajar berhitung anak tk (16),
kursus membaca dan menulis (13),
dialog anak sd (12),
calistung untuk anak tk (11),
pohon hitung (3),
gambar belajar berhitung anak tk (2),
contoh dialog anak tk (2),
mengenalkan angka pada anak tk (2),
percakapan dialog anak (2),
mengapa anak tk tidakl boleh diajari membaca berhitung (2)