Jengkel banget ya kalau sampai kehilangan sandal kesayangan. Supaya sandal tidak hilang di masjid, warnet dsb ikuti tip-tip berikut: Kalau memungkinkan, bawa masuk saja sandal kamu Pisahkan sandal kiri dengan kanan minimal 3 meter Balik, jadi solnya di atas Semoga … Continue reading
Author Archives: Robert Wagiman
Mendaki Atas Angin Yang Ekstrim
Perhatian! Tulisan ini ukurannya besar sekali. Pertimbangkan untuk tidak menampilkan gambar kalau kamu browsing pake HP.
Capek, suntuk, stres dengan kesibukan utak-atik komputer di PCC (Pati Computer Center) dan kuliah di STIMIK AKI Pati membuat kerinduanku pada gunung makin menjadi-jadi. Hmm… Kali ini puncak gunung apa lagi yang akan aku daki, ya? Aha! Atas Angin pasti seru! Jadi ingat cerita gengnya Lisin (Japit Muncak), yang katanya ada jalur sempit yang di kiri dan kanannya jurang 90 derajat. WOW! Bikin ngiler aja
Segera ide ini aku sampaikan kepada Pras yang juga gila naik gunung. Hihihi… Yang namanya Pras pasti nggak akan nolak diajak naik gunung asal dana mencukupi. Segera dia sanggupi dengan luapan rasa gembira dan tidak sabaran, sebab hari H-nya adalah minggu depan. Dan aku rasa cukup kami berdua saja yang naik dengan pertimbangan ini baru pertama kalinya kami ke sana. Kalau ada yang mau ikut, paling tidak harus tangguh dan sudah berpengalaman. Ini untuk mengantisipasi kalau-kalau ada kejadian serem seperti di Argo Jombangan kemarin
Oke, pendakian kami laksanakan hari Continue reading
Incoming search terms:
puncak atas angin (10), puncak 29 gunung muria (9), gambar orang tuli (4), Argadahana kudus (1), pertapaan abiyoso (1), pertapan abiyoso (1), petualang angka untuk anak tk (1), pijatsaraf d kota kudus (1), puncak natasangin (1), natas angin muria kudus (1)Sebaiknya Anak TK Tidak Diajari Calistung (Baca, Tulis, Berhitung)
Berikut adalah percakapan khayalan antara dua anak ajaib:
Rahma (TK Kecil)
dan Lita (kelas 1 SD)
. Sore itu mereka bertemu di taman bermain di belakang SD Nagasari.
Rahma : Sore Mbak Lita!
Lita : Sore Rahma!
Rahma : Mbak Lita, Mbak Lita! Aku sudah bisa baca lho! (Sambil menunjuk pohon) Itu bacanya: “Rawatlah aku!”
Lita : Wah, hebat! Siapa yang ngajarin?
Rahma : Bu Juwita.
Lita : Hmm… Sebenarnya anak TK belum waktunya diajari membaca.
Rahma : Kenapa, Mbak?
Lita : Apa kamu nggak bete, harus menghafal banyak huruf?
Rahma : Kadang-kadang bete juga sih. Tapi ya senang juga kalau bisa membaca. Eh, tapi teman-temanku banyak yang stres lho Mbak. Sering ada yang ngambek nggak mau masuk sekolah.
Lita : Ya iya lah. Di TK kan mereka harusnya cuma bermain, bernyanyi, menggambar dan kegiatan menyenangkan lainnya. Menurut peraturan, membaca, menulis dan menghitung baru diajarkan di SD.
Rahma : Jadi calistung nggak ada di kurikulum TK ya Mbak?
Lita : Kok kamu tahu istilah ‘kurikulum’ segala?
Rahma : Kita kan anak ajaib. Hehehe!
Lita : Hehehe!
Rahma : Tapi kalau nggak ada di kurikulum, kenapa diajarkan?
Lita : Itu karena desakan orang tua. Mereka ingin supaya anak-anaknya waktu masuk SD nanti sudah bisa membaca. Pihak TK terpaksa mengajarkan membaca, menulis dan berhitung. Lama-lama, fenomena pengajaran calistung di TK menjadi suatu kewajaran.
Rahma : Padahal sebenarnya tidak wajar.
Lita : Betul. Karena orang tua suka membanggakan anaknya, mereka memaksa anak untuk belajar di luar batas kemampuannya. Disuruh les di sana-sini. Ini akhirnya akan membuat mereka stres, menurunkan kecerdasan (IQ), mematikan kreatifitas, membuat mereka seperti robot.
Rahma : Tapi Mbak, meski umurku baru 4 tahun, aku nggak stres-stres amat kalau diajari membaca.
Lita : Itu karena kamu anak ajaib. Sebenarnya orang tua boleh mengenalkan huruf dan angka kepada anaknya. Tapi harus dalam suasana bermain. Artinya anak tidak merasa dipaksa. Kalau si anak minta diajari, baru boleh diajari membaca. Jadi harus dari kemauan si anak sendiri. Tidak boleh ada target, misalnya: waktu masuk SD harus sudah bisa membaca.
Rahma : Tapi di beberapa SD favorit ada ujian membaca waktu mau masuk.
Lita : Itu sebenarnya melanggar peraturan. Ada surat edaran menteri yang melarang praktek seperti itu.
Rahma : Ngomong-ngomong, dialog kita sudah cukup panjang nih, Mbak.
Lita : Iya. Kasihan yang baca kalau kepanjangan

