Mendaki Atas Angin Yang Ekstrim

Perhatian! Tulisan ini ukurannya besar sekali. Pertimbangkan untuk tidak menampilkan gambar kalau kamu browsing pake HP.

pras-merayapCapek, suntuk, stres dengan kesibukan utak-atik komputer di PCC (Pati Computer Center) dan kuliah di STIMIK AKI Pati membuat kerinduanku pada gunung makin menjadi-jadi. Hmm… Kali ini puncak gunung apa lagi yang akan aku daki, ya? Aha! Atas Angin pasti seru! Jadi ingat cerita gengnya Lisin (Japit Muncak), yang katanya ada jalur sempit yang di kiri dan kanannya jurang 90 derajat. WOW! Bikin ngiler aja :D

Segera ide ini aku sampaikan kepada Pras yang juga gila naik gunung. Hihihi… Yang namanya Pras pasti nggak akan nolak diajak naik gunung asal dana mencukupi. Segera dia sanggupi dengan luapan rasa gembira dan tidak sabaran, sebab hari H-nya adalah minggu depan. Dan aku rasa cukup kami berdua saja yang naik dengan pertimbangan ini baru pertama kalinya kami ke sana. Kalau ada yang mau ikut, paling tidak harus tangguh dan sudah berpengalaman. Ini untuk mengantisipasi kalau-kalau ada kejadian serem seperti di Argo Jombangan kemarin :D

Oke, pendakian kami laksanakan hari Sabtu pagi-Minggu siang, 8-9 November 2008. Di hari itu, di bawah mendung yang indah, meluncurlah kami dengan motor Prima-ku yang mesinnya masih “prima” :). Kami berangkat lewat Gembong tanpa tahu jalan mana saja yang harus kami lewati untuk menuju Desa Rahtawu, start pendakian Atas Angin. Jadi yang kami bertanya saja kepada orang-orang yang kami temui di jalan.

Pak, Bu, Mas, Mbak, kalau mau ke Rahtawu lewat mana?”

Anu, sampeyan lurus saja ke barat, trus mentok, belok ke utara, trus ada pertigaan, silakan belok ke timur.”

Waduh, kami dua orang asing ini mana tahu mana barat, utara, timur dan selatan :) . Seperti kata pepatah, “Malu bertanya sesat di jalan,” maka kami patuhi dengan sungguh sungguh nasihat itu. Kalau malu-malu kan bisa kesasar, kalau kesasar kan malah jadi tambah malu-maluin :D . Nah, rupanya nasib kami memang sedang sial. Sudah bertanya ke sana ke mari. Bahkan sudah sektitar 20-an orang kami tanyai. Tapi akhirnya kami tersesat juga. Kelantur. Kebablasen. Seharusnya kami berhenti di warung dekat jembatan, tapi kami lurus saja 2-3 kilometer ke arah Puncak Sangalikur (Puncak 29). Jadi pelajaran yang bisa kami ambil dari sini adalah, “Bertanyalah kepada orang sebanyak-banyaknya, tetapi belum tentu jawaban setiap orang bisa dijadikan petunjuk yang benar. Bertanyalah kepada orang yang lain lagi sebagai perbandingan.”

gerbang-start-pendakianDan sampailah kami di warung tempat start pendakian Abiyoso-Atas Angin setelah tau mana jalan yang sesat dan mana jalan yang benar. Makan sebentar, menitipkan motor, dan memulai pendakian. Sepuluh menit berjalan, masih ringan. Lima belas menit, wah, capek juga, tapi belum mau berhenti. Kami berjalan santai sambil menikmati pemandangan yang jarang bisa dilihat di kota. Dua puluh menit berjalan, istirahat dulu ah. Lepas jaket karena gerah, pijat kaki dan bahu, menenangkan nafas, foto-foto dan… ngobrol, biar nggak sepi dan membosankan. Eh, buat yang belum tau nih, ngobrol pas naik gunung rasanya beda sama ngobrol biasa lho :)

Kami berjalan dengan diiringi hujan ringan. Di sekitar setengah perjalanan awal ini, tanah yang kami lalui berbatu dan berkerikil. Yang patut diwaspadai adalah ketika hujan lebat. Rawan longsor. Kami memutuskan mendaki meski waktu itu awal musim penghujan dengan alasan medannya dekat, nggak terlalu berbahaya dan kami yakin bisa mengatasi kalau ada hal-hal buruk, seperti tanah longsor misalnya. Begitu hampir sampai Pertapaan Eyang Abiyoso, jalur mulai banyak akarnya karena banyak ditumbuhi pohon-pohon besar. Di bawah Pertapaan Eyang Abiyoso ada pertigaan. Kalau lurus sampai di sendang, kalau belok kiri dan naik sampai di pertapaan. Kami memutuskan naik.

Akhirnya sampai juga kami di puncak pertama, Pertapaan Eyang Abiyoso. Kesannya di sini seperti di kampung, bukan di atas gunung. Kami disambut gapura bertuliskan huruf Jawa, kemudian bangunan permanen sebagai bangunan utama, dan warung-warung semi permanen yang waktu itu cuma dua saja yang buka. Suasana di atas cukup ramai, jadi kami bisa bertanya ke arah mana lagi kami harus melanjutkan perjalanan.

gerbang-abiyoso

Setelah merasa cukup, kami melanjutkan pendakian. Khawatir kemalaman. Lagipula kabut sudah mulai menebal. Kata Bapak yang punya warung di pertapaan, sampai ke Atas Angin kira-kira seperempat jam. Dengan penuh rasa ingin tahu dan hati riang kami mempercepat langkah. Kali ini jalur dipenuhi rumput dan semak yang tingginya sepinggang sampai sedada yang membuat pakaian kami basah. Setelah sampai di bedeng beratap seng kami menemui percabangan. Kami memutuskan belok ke kanan dan naik, sebab kalau lurus kelihatannya jalannya menurun.

Kami berhenti di bedeng beratap seng (lagi) karena menurut sangkaan kami tempat itu tepat di bawah puncak Atas Angin. Kemudian kami menaruh barang-barang bawaan dan naik hanya dengan membawa satu botol Aqua. Setelah berjalan kira-kira dua menit, sampailah kami di puncak yang sempit. Waktu itu kabut makin parah. Mungkin ini puncak Atas Angin, tapi hatiku ragu. Di sana masih ada jalur dan yang pasti kami belum menemui jurang 90 derajat. Maka kami putuskan bermalam di sini dulu dan melanjutkan perjalan esoknya.

Beruntung, kami dapat tempat berteduh yang nyaman. Dengan menutup sekeliling bedeng dengan terpal dan ponco, menggelar dua matras dan dua kantong tidur dan ditemani api unggun, kami merasa hangat dan nyaman :) . Karena ada api unggun, rasanya sayang membuang spiritus. Jadi kami relakan panci jadi gosong untuk memasak :)

hotel-di-gunung

Oh iya, waktu hampir maghrib, datang dua orang berumur 30-40 tahunan dari Jepara. Mereka bukan pendaki. Mereka naik dengan niat bertamasya karena disangkanya cuma satu jam bisa sampai ke puncak. Ternyata naik gunung tidak semudah yang mereka sangka. Setelah berbincang-bincang sebentar, mereka melanjutkan naik. Sekitar 15 menit kemudian mereka turun dan kembali berbincang dengan kami. Yang satu merasa kapok. Dia bilang ini yang pertama dan terakhir. Menurut kami mereka hebat. Belum berpengalaman tapi berhasil naik sampai setinggi itu hanya dengan berbekal satu botol Aqua. Meski salah satunya sempat pingsan :) Akhirnya mereka berdua turun dengan senter HP.

api-unggunMalamnya kami lalui dengan obrolan pelepas lelah khas pendaki :)

Esok paginya, kami berkemas dan melanjutkan pendakian. Inilah yang jalur yang paling seru. Jalur terjal, di kanan dan kiri jurang dengan kemiringan hampir 90 derajat. Jalur ini nggak cocok untuk turun karena cukup berbahaya. Dan nggak disarankan untuk orang yang takut ketinggian. Di sebelah kiri, jurangnya cukup curam, mendekati 80 derajat. Di sana banyak pohon kecil dan semak. Jadi kalau jatuh, usahakan jatuh ke kiri supaya bisa tersangkut. Nah, di sebelah kanan ini yang paling ekstrim. Hampir 90 derajat dan tanpa semak-semak. Jadi cuma rumput. Kalau jatuh ke sini harus pintar-pintar memanfaatkan rumput untuk pegangan. Sedangkan lebar jalur itu sendiri sekitar 80 cm sampai 150 cm. Waktu itu di kiri, kanan dan bawah kami penuh kabut bergumpal-gumpal yang tebal. Kami berharap pada matahari yang mulai naik untuk mengusir kabut.

tebing-curam

Kami melalui jalur ini dengan ekstra hati-hati. Setelah mendaki sekitar satu jam, sampailah kami di puncak Atas Angin. Ternyata puncaknya ada tiga, tapi kami cuma mendatangi dua puncak saja. Di puncak ada bedeng kecil beratap seng. Wow, pemandangannya keren banget. Meski sering kali terhalang kabut, kami bisa melihat puncak-puncak muria lainnya. PLTU Tanjung Jati B Jepara juga kelihatan.

pras-mau-bunuh-diri pras-di-puncak-gunung

mardies-di-atas-awan

Di sana kami ketemu 3 pendaki dari Mapala Arga Dahana, Universitas Muria Kudus (UMK). Mereka adalah Fadli, Udin dan… lupa :P (rambutnya disemir coklat muda). Kami bersosialisasi, melihat-lihat pemandangan sambil berfoto. Setelah puas, kami turun melalui jalur lain. Jalur yang memutar, lebih jauh, tapi lebih aman. Karena kami ini termasuk pendaki lambat, akhirnya ketinggalan juga sama mereka bertiga. Prinsip kami ketika mendaki adalah, “Santai saja, nikmati pemandangan, kalau capek ya istirahat, tapi jangan terlalu lama.”

Sekitar 1 jam kemudian kami sampai kembali di Pertapaan Eyang Abiyoso. Istirahat sebentar, lalu melanjutkan turun. Di pertigaan di bawah Abiyoso kami mampir sebentar di Sendang. Sebenarnya kurang pas kalau disebut sendang. Sebab sumber airnya dari atas, bukan dari bawah alias dari pancuran.

tak-beraturan-tapi-indah

Perjalanan turun kami lanjutkan. Turun terus… terus… Oh iya, di sungai kecil kami ketemu dua anjing galak milik penduduk setempat. Waktu kami masih di atas, galaknya minta ampun. Tapi waktu kami melewatinya, mereka cuma diam saja :) . Di jalan turun kami ketemu Pak Tua yang memikul kayu dan Ibu yang membawa kayu dan sayuran. Aku mencoba Pak Tua yang kelihatannya kepayahan. Wah, ternyata pikulan kayu itu berat sekali. Bahuku sampai sakit. Orang gunung memang hebat-hebat.

mardies-memanggul-kayu-bakar

Akhirnya, sampailah kami di warung dan penitipan motor. Perut sudah mulai protes minta diisi. Setalah kenyang, kami pulang dengan diiringi tangisan lagit Rahtawu (meminjam istila Pras). Di bawah hujan lebat, aku memacu motor. Di sepanjang jalan, kami bertemu banyak pasangan muda-mudi yang melampiaskan nafsu pacaran. Ya, jalur ini memang biasa dipakai pacaran. Meski kehujanan, pacaran tetap jalan :) . Ada juga yang mojok di semak-semak. Jangan-jangan… ah, sudahlah :D

Kalau berangkatnya dari Gembong, Pati, kali ini pulangnya dari Kudus. Kami mampir sebentar di rumah Pakdheku, Heri Sutomo. Makan siang (lagi), muter-muter sebentar, lalu pulang.

TAMAT

11 thoughts on “Mendaki Atas Angin Yang Ekstrim”

    1. wah keren crito munggah gununge di tampilke nang blok.kapan arep munggah maneh?mampir2 wae nang mapala arga dahana kudus pak.

Leave a Reply